Dari hari ke hari mencoba mendaki mimpi mimpi yang terus melambungkan kegelisahan. Maka kupun belajar menghargai datangnya waktu dengan belajar berteduh dari guyuran. Seakan tetes tetes yang menjadikan badan ini kuyup dan kedinginan. Dari menghadapi realita realita ditiap langkah jalan.
Kini tidak ada lagi yang membelaku, tapi buat apa kupikirkan. Kunyata dari dasar seorang yang bukan apa-apa. Beban itupun mulai sedikit demi dikit mulai ku tanggalkan. Karena kumemang mengejar suatu mimpi mimpi walau sering mengalami kesulitan dan gagal. Tapi buat apa kumengeluh dan terdiam untuk berjalan. Kubelajar diam bukan artiku hanya mencari ketenangan.
Waktu demi waktu kupun merat seutas demi utas agar mampu kukumpulkan hal hal yang baik. Mungkin masih tong kosong atau dibilang masih nol. Tapi kumengerti tanpa kucoba kuhanya akan melamunkan impianku saja. Bertindak walau hanya kecil dan berlatih pada khokwensi maka melatih kesabaran.
Hanya dikepastianku mau berjuang itulah sebuah usaha. Terjadinya kesalahan atau pun penyikapan itu wajar dan manusiawi. Mungkin ini juga bukan jadi alasan kujuga asal tapi harus tahu sikap. Memang terkadang menjaga emosi tidak semudah bayangan ada kalanya kesemrawutan keadaan jadikan kuorang yang bertindak bodoh.
Maka senyum dan latih agar jadi diri yang terus melajur mencairkan padatnya air es agar mampu jadi air yang mampu jadi siraman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar